Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Deni Wicaksono: Dukung PTM Dengan Empat Syarat Mutlak

Senin, 19 April 2021 | April 19, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-04-19T14:32:19Z
 
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur yang membidangi pendidikan, Deni Wicaksono (Foto: Ist)


Jakarta, Detakterkini.com- Keinginan para pelajar di Jawa Timur untuk kembali mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) semakin menggebu. Hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) yang melibatkan 1.070 anak muda di 38 kabupaten/kota se-Jatim dengan hasil 77,4 persen responden berharap agar mereka bisa kembali belajar tatap muka.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur yang membidangi pendidikan, Deni Wicaksono, mengatakan, saat ini mayoritas pelajar memang ingin kembali belajar secara tatap muka di sekolah.


”Saya juga sudah diskusi dengan ratusan pelajar secara virtual, semuanya bilang kangen sekolah. Pembelajaran tatap muka bagaimana pun melahirkan experience yang berbeda dibanding daring,” terang Deni, Senin (19/4).


Lebih dari setahun mengikuti pembelajaran jarak jauh, lanjut politisi PDI Perjuangan itu, telah membawa banyak konsekuensi bagi pelajar.


Deni menambahkan bahwa kajian Bank Dunia yang menyatakan penutupan pembelajaran di sekolah memicu penurunan nilai ujian rata rata hingga 25 persen. Pandemi ini juga menurunkan efektivitas tahun sekolah dasar yang dicapai anak dari 7,9 tahun menjadi 7,3 tahun.


”Riset-riset global, termasuk dari Unicef menyebutkan pandemi berpotensi menurunkan kompetensi dasar siswa karena menurunnya waktu kualitas belajar,” bebernya.


Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini mendukung penuh dilaksanakannya PTM yang oleh Mendikbud ditargetkan berlangsung di semua sekolah pada Juli 2021.


PTM ini sangat penting untuk menjaga akselerasi kualitas sumberdaya manusia (SDM). Meski demikian, Deni menggarisbawahi empat hal yang sangat penting diperhatikan.


Pertama, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. ”Saya paham semuanya kangen sekolah, kangen belajar di kelas, kangen cerita bapak/ibu guru, tapi protokol kesehatan tidak boleh ditawar,” tegas Deni.


Kedua, pengaturan jam PTM, sesuai protokol, maka kelas hanya boleh diisi maksimal 50 persen kapasitas kursi. Artinya, tetap ada pelajar yang mengikuti pembelajaran daring.


Deni menyarankan ada pembagian dua kelas, yaitu jam pagi dan siang atau sore. Atau diatur komposisi antara PTM dan PJJ, sehingga semua pelajar kembali PTM.


Menurutnya, tentu ada konsekuensi lanjutan, misalnya memberi insentif ke guru. Atau, tambah dia, membuka gerakan relawan mengajar dengan melibatkan mahasiswa tingkat akhir di kampus-kampus pendidikan untuk ikut membantu mengajar di sekolah.


“Kan kurikulum sudah ada, mahasiswa tingkat akhir pasti sudah paham. Sehingga kelas pagi dan siang terlaksana tanpa menambah beban bapak/ibu guru,” beber Deni.


Ketiga, jadikan PTM sebagai sarana memasifkan edukasi kesehatan. Menurutnya, kini saatnya memperkuat gaya hidup sehat sejak dari sekolah.


Salah satu langkah yang bisa dilakukan, lanjut dia, adalah revitalisasi unit kesehatan sekolah (UKS). UKS direvitalisasi dengan menjadikannya sebagai pilar promosi dan preventif kesehatan.


“Sinergikan UKS dengan Puskesmas. Puskesmas menyupervisi UKS. Puskesmas masuk ke sekolah-sekolah untuk edukasi kesehatan,” katanya.


”Saya yakin, jika urusan ini tuntas di sekolah, kita akan punya generasi yang disiplin menerapkan gaya hidup sehat. Ujungnya, derajat kesehatan masyarakat akan meningkat,” tambah dia.


Keempat, lanjut Deni, pentingnya pendidikan parenting. Pararel dengan penyiapan PTM, dia mendorong Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk menggerakkan sekolah agar masif menggelar pendidikan parenting secara daring bagi orangtua siswa.


“Ini adalah momentum untuk menyediakan pendidikan parenting kepada orangtua. Pendidikan parenting sangat penting karena tidak semua orang tua memahami bagaimana sih pendidikan anak, padahal saat ini kan anak banyak berada di rumah,” pungkas Deni.

×
Berita Terbaru Update